PEMANDUAN BAKAT
🎯Konsep Dasar Pemanduan Bakat
Bakat merupakan faktor bawaan yang dibawah dari lahir atau adanya faktor keturunan, diperoleh dari campuran antara dua sel yang berasal dari ayah dan ibunya. Namun, semuanya tetap kembali pada apa yang dimiliki pada saat ketika dilahirkan yang berasal dari anak itu sendiri (Yuliawan, 2023).
Menurut Chaplin, yang dimaksud dengan bakat adalah kemampuan pontesial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan masa yang akan datang (Irawan & Fitrialdy, 2020).
Ada enam bakat menurut America US Office Of Education (USOE) dalam Irawan & Fitrialdy (2020) yaitu:
- intelektual umum
- akademik khusus
- berfikir kreatif-produktif
- kemampuan memimpin
- bidang seni dan pertunjukkan
- kemampuan psikomotor
Bakat dapat menentukan karakteristik pada tiap cabang olahraga (Teunissen et al., 2021). Secara umum, bakat olahraga (sport talent) didefinisikan sebagai atlet muda yang menunjukkan performa lebih baik dibandingkan rekan-rekannya selama latihan maupun kompetisi di usia muda, serta memiliki potensi untuk mencapai tingkat elite saat dewasa (Verburgh et al., 2014)
Di Indonesia Sport Talent dikenal juga dengan Pemanduan Bakat, terdapat juga nama lain dari Pemanduan Bakat yaitu Identifikasi bakat olahraga atau Talent scouting (istilah internasional)
Menurut Depdiknas “Pemanduan bakat adalah proses dimana anak-anak dianjurkan berpartisipasi di cabang olahraga dimana mereka kemungkinan besar dapat berhasil, didasarkan kepada hasil-hasil tes dari parameter-parameter terpilih Teori bakat olahraga” (Supriatna, 2017).
Pemanduan bakat olahraga merupakan suatu proses yang dirancang untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan membimbing individu yang memiliki potensi untuk menjadi atlet yang sukses. Proses ini melibatkan serangkaian langkah-langkah yang dirancang untuk menilai kemampuan fisik, teknis, taktis, mental, dan sosial seorang individu dalam suatu cabang olahraga (Wicahyani et al., 2023)
Identifikasi bakat adalah salah satu langkah dalam rangkaian proses pemanduan bakat. Karena sifatnya sangat khusus, tahap ini tidak bisa diperlakukan secara umum. Sebaliknya, identifikasi bakat harus dipahami sebagai bagian penting dari keseluruhan proses menemukan dan mengembangkan potensi seseorang dalam olahraga (Prasetyo et al., 2018) dengan tujuan untuk:
- mengarahkan peserta muda ke cabang olahraga yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan mereka,
- mengoptimalkan proses pengembangan keterampilan, serta
- memberikan rekomendasi untuk melakukan alih cabang olahraga apabila terdapat motivasi atau kebutuhan tertentu, termasuk akibat cedera (Teunissen et al., 2023)
Talent scouting (pencarian bakat) adalah proses menentukan kemampuan (prasyarat) pencapaian, di mana anak tersebut harus memiliki kemampuan untuk mencapai tingkat prestasi yang tinggi dan harus menggunakan teknik diagnosis yang tepat (Santoso, 2015).
🎯Praktik Pemanduan Bakat
Identifikasi bakat menjadi bagian penting untuk keberhasilan jangka Panjang. Cara terbaik untuk mendapatkan atlet berbakat adalah dengan melakukan pencarian sejak usia dini (Utamayasa, 2015).
Para pakar menekankan lima tahapan utama dalam proses pencarian bakat: deteksi, identifikasi, konfirmasi, seleksi, dan pengembangan (Radicchi & Mozzachiodi, 2016).
Metode untuk menemukan bakat olahraga melibatkan gabungan beberapa faktor, seperti kondisi fisik, kemampuan tubuh, ukuran tubuh, dan keterampilan teknis yang disesuaikan dengan usia. Selain itu, penting juga memantau kemampuan pribadi dan sosial, misalnya kerja sama tim, pengendalian emosi, nilai-nilai yang dianut, motivasi dari dalam diri, serta ketahanan saat menghadapi tekanan kompetisi (van Rossum & Gagné, 2006)
🎯Perbedaan Bakat Alami & Hasil Latihan
Beberapa aspek yang membedakan antara bakat alami dan hasil latihan sebagai berikut:
💁Aspek sumber kemampuan
💁Ciri utama
- Bakat Alami: Genetik, bawaan sejak lahir
- Hasil Latihan: Diperoleh melalui proses pembinaan
💁Contoh
- Bakat Alami: Muncul spontan tanpa banyak latihan
- Hasil Latihan: Terbentuk dari latihan terstruktur
💁Peran Guru/Pelatih
- Bakat Alami: Anak sejak lahir memiliki refleks cepat atau koordinasi tinggi
- Hasil Latihan: Anak yang meningkatkan stamina lewat latihan rutin
- Bakat Alami: Menemukan dan mengarahkan potensi
- Hasil Latihan: Mengembangkan kemampuan melalui program latihan
Menurut Ericsson dan rekan-rekannya (1993; 1996), bakat bawaan (alami) memang penting, tetapi tidak cukup untuk membuat seseorang ahli dalam bidang tertentu. Prestasi tinggi lebih banyak dipandang sebagai keterampilan yang diperoleh melalui latihan. Kualitas dan jumlah latihan yang teratur sangat menentukan, di mana latihan dipahami sebagai segala bentuk kegiatan yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan seseorang (Moran, 2004).
Mengidentifikasi bakat atletik terlalu dini bisa berisiko, karena ada kemungkinan mengabaikan anak-anak lain yang sebenarnya memiliki potensi genetik lebih besar untuk menjadi unggul. Namun, bakat mereka baru akan terlihat jika diberi waktu dan pelatihan yang tepat. Karena proses membentuk seorang atlet profesional membutuhkan waktu lama, pelatih dan organisasi olahraga perlu berhati-hati dalam mengarahkan anak sejak usia dini (Balyi et al., 2013)
Aliran Konvergensi (Sintesis Teori) yang dipelopori oleh W. Stern menjelaskan bahwa bakat seorang anak terbentuk dari perpaduan antara faktor bawaan dan pengaruh lingkungan/hasil latihan. Keduanya saling melengkapi: bakat bawaan tidak akan berkembang tanpa dukungan lingkungan, sementara pengaruh latihan tidak akan berarti jika tidak ada respons dari dalam diri anak. Stern menggambarkan perpaduan ini sebagai garis diagonal dalam sebuah jajar genjang, yang menunjukkan keseimbangan antara nativisme dan empirisme. Faktor mana yang lebih dominan bergantung pada kondisi masing-masing anak. Misalnya, anak yang memiliki bakat olahraga akan tetap menunjukkan kemampuannya meskipun menghadapi hambatan dari luar. Sebaliknya, anak yang tidak memiliki bakat di bidang teknik, meskipun belajar hingga perguruan tinggi, biasanya hanya mampu meniru tanpa minat mendalam, sehingga hasil karyanya kurang memuaskan (Tangkudung, 2018)
Pemanduan bakat bukan hanya mencari siapa yang “berbakat”, tetapi membangun sistem pembinaan agar setiap individu dapat mencapai potensi maksimalnya.
Daftar Pustaka:
Balyi, I., Way, R., & Higgs, C. (2013). Long-Term Athlete Development. Human Kinetics. https://doi.org/10.1249/jsr.0b013e3181fe3c44
Irawan, R. D., & Fitrialdy, F. (2020). IMPLEMENTASI METODE BACKWARD CHAINING SEBAGAI SISTEM PAKAR DALAM IDENTIFIKASI BAKAT ANAK. Information System Journal (INFOS), 3(1), 1–7.
Moran, A. (2004). Sport and Exercise Psychology. Routledge Taylor & Francis Group. https://doi.org/https://doi.org/10.4324/9780203380246
Prasetyo, Y., Nasrulloh, A., & Komarudin, K. (2018). Identifikasi Bakat Istimewa Panahan Di Kabupaten Sleman. Jorpres (Jurnal Olahraga Prestasi), 14(2), 195–205. https://doi.org/10.21831/jorpres.v14i2.23830
Radicchi, E., & Mozzachiodi, M. (2016). Social Talent Scouting : A New Opportunity for the Identification of Football Players ? PHYSICAL CULTURE AND SPORT. STUDIES AND RESEARCH, LXX, 28–43. https://doi.org/10.1515/pcssr-2016-0012
Santoso, N. P. B. (2015). INSTRUMENT DEVELOPMENT FOR TALENT SCOUTING FENCING ATHLETE ACHIEVEMENT TOWARDS 2024. Proceeding International Conference Of Asean Council Of Physical Education And Sport (Acpes) 2015: Enhancing The Quality Of Services In Physical Education, Health And Sport For A Better Future, 351–359.
Supriatna, E. (2017). PEMANDUAN BAKAT OLAHRAGA: PENELUSURAN BAKAT OLAHRAGA DI SDN 06 PONTIANAK TIMUR. Jurnal Performa Olahraga, 2(01), 55–68.
Tangkudung, J. (2018). SPORT PSYCHOMETRICS : Dasar-Dasar dan Instrumen Psikometri Olahraga. PT RajaGrafindo Persada. https://www.researchgate.net/publication/328600534
Teunissen, J. W., Faber, I. R., Bock, J. De, Slembrouck, M., Verstockt, S., Lenoir, M., Pion, J., Willem, J., Faber, I. R., Bock, J. De, Slembrouck, M., Verstockt, S., Lenoir, M., Pion, J., Dec, A., & Teunissen, J. W. (2023). A machine learning approach for the classification of sports based on a coaches ’ perspective of environmental , individual and task requirements : A sports profile analysis analysis. Journal of Sports Sciences, 00(00), 1–10. https://doi.org/10.1080/02640414.2023.2271706
Utamayasa, I. G. D. (2015). Talent Identification of Future Sportsmen Using Sport Search Application. Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal), 4(1), 690–695.
van Rossum, J. H. A., & Gagné, F. (2006). Talent Development in Sports. In F. A. Dixon & S. M. Moon (Eds.), The handbook of secondary gifted education. Prufrock Press Inc.
Verburgh, L., Scherder, E. J. A., Lange, P. A. M. Van, & Oosterlaan, J. (2014). Executive Functioning in Highly Talented Soccer Players. PLoS ONE, 9(3). https://doi.org/10.1371/journal.pone.0091254
Wicahyani, S., Rusdiawan, A., & T, Y. A. (2023). Edukasi Pemanduan Bakat Olahraga Untuk Mengidentifikasi Bibit Atlet Berbakat Cabang Olahraga Bulutangkis. ABISATYA: Journal of Community Engagement, 1(2), 54–60.
Yuliawan, E. (2023). IDENTIFIKASI BAKAT OLAHRAGA DENGAN METODE SPORT SEARCH PADA SISWA SEKOLAH DASAR. Jurnal Tunas Pendidikan, 5(2).





























